log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 07 April 2014 00:00

Seberapa Jauh Anda Melangkah Untuk Satu Jiwa

Written by  Dr. Jerry Stott (Amerika)
Dr. Jerry Stott (Amerika) diterjemahkan Bapak Ecal Tanok Dr. Jerry Stott (Amerika) diterjemahkan Bapak Ecal Tanok

Yesaya 54:2

“Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!”

Beberapa pengkhotbah memaknai nats ini dengan gedung gereja yang lebih besar atau tempat pelayanan yang lebih luas. Tetapi saya memahaminya berbeda.

Menurut tradisi Timur Tengah, apabila orang asing berada di tenda kediaman seseorang maka orang itu harus bertanggungjawab untuk memberinya makan, pakaian serta melindunginya. Hal ini terlihat dalam kisah Lot ketika malaikat Tuhan datang ke rumahnya. Orang-orang jahat di kota itu berteriak-teriak supaya Lot memberikan mereka untuk dipakai. Tetapi Lot tidak membiarkan hal itu terjadi. Bahkan Lot rela memberikan anak perempuannya sebagai gantinya untuk melindungi orang-orang asing tersebut. Apapun harus dikorbankan demi keselamatan orang asing yang diam di kemahmu.

Kemah berbicara tentang tempat perlindungan. Karena itu saya maknai bahwa Firman Tuhan di atas bukan sekedar membangun gedung yang besar tetapi bagaimana orang Kristen membentangkan tempat perlindungan kepada orang-orang yang butuh keselamatan dari Tuhan.

Kita telah menikmati begitu banyak berkat dari Tuhan. Kita mempunyai gedung gereja yang bagus, fasilitas yang memadai, rumah kita juga bagus, punya mobil yang bagus dan banyak berkat-berkat lainnya. Tetapi inilah saatnya untuk keluar dari zona nyaman itu dan membentangkan tenda bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Perintah untuk melapangkan kemah dan membentangkan tenda mempunyai makna bekerja dan berkorban. Kita tidak boleh lagi tetap berada dalam keadaan yang nyaman, sebab ada seseorang yang Tuhan panggil untuk dilindungi, ada jiwa yang Tuhan panggil untuk dijangkau, banyak orang yang perlu dibawa kepada Kerajaan Allah.

Jadi seberapa jauh anda melangkah untuk satu jiwa? Yesus melangkah sampai ke kayu salib. Untuk satu jiwa, Yesus telah menyimpang ke Samaria. Di sana ada seorang wanita yang kemungkinan besar telah disisihkan dari masyarakat. Mungkin telah dicampakkan oleh lima orang laki-laki. Kenapa saya katakan dicampakkan laki-laki? Sebab waktu itu perempuan tidak bisa menceraikan laki-laki. Hanya laki-laki yang bisa menceraikan istrinya. Bisa saja tidak ada lagi yang peduli dengan wanita itu. Tetapi Yesus mendatanginya dan menyampaikan Kabar Baik. Yesus berkata kepada murid-muridNya : “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Allah”. Yang dimaksud dengan kehendak Allah adalah memberitakan Injil.

Yesus juga pernah membentangkan kisah seorang yang jatuh ke tangan perampok dan menjarahnya habis-habisan. Seorang imam lewat tetapi tidak menolong orang itu. Seorang Lewi juga lewat tetapi juga tidak berbuat apa-apa. Namun seorang Samaria lewat dan ia langsung menjangkau orang itu, menaikkannya ke atas keledainya dan membawanya masuk ke kota serta memberikan uang kepada pengurus penginapan untuk merawat orang itu. Tentu banyak yang dikorban orang Samaria itu, antaralain korban uang, korban waktu, dan lain-lain. Tetapi Yesus berkata bahwa hal yang demikianlah yang harus dilakukan murid Yesus.

Harinya akan datang dimana kita akan berdiri di hadapan Tuhan, dan Tuhan tidak mengukur kita dengan berapa banyak yang kita miliki tetapi Tuhan akan mengukur kita dengan apa yang telah kita lakukan di bumi ini.

Ribka adalah seorang gadis muda yang biasa mengambil air dari sumur untuk kambing domba ayahnya. Suatu hari pelayan atau budak Abraham datang ke sumur itu untuk mencari seorang istri buat anak tuannya. Ribka tidak mengenalnya tetapi dengan tulus ia melayani pelayan itu dengan memberinya minum dan mengambil air untuk unta-untanya. Ribka tidak sadar bahwa sebenarnya waktu ia melayani, Tuhan sudah mempersiapkan kekayaan Abraham kepadanya. Ribka kemudian menjadi istri Ishak dan mewarisi seluruh kekayaan Abraham.

Pengorbanan apa yang anda persembahkan untuk satu jiwa. Inilah waktunya bagi kita untuk menjangkau lebih banyak jiwa. Inilah musim menuai jiwa-jiwa datang kembali. Sekarang di seluruh dunia Roh Allah bekerja luar biasa. Pertanyaannya, apakah anda mau ambil bagian atau tidak, apakah anda rela meninggalkan keadaanmu yang nyaman dan membentang tenda tempat kediamanmu?

Ketika saya masih muda, masih murid Sekolah Alkitab, saya mengenal satu keluarga hamba Tuhan yang terkenal. Sebelum keluarga itu menggembalakan, mereka adalah misionaris. Keluarga itu mempunyai seorang anak remaja yang tidak baik. Pada umur 14 tahun anak itu telah terikat dengan minuman keras, rokok, dan pornografi. Melihat anak itu hati saya penuh belas kasihan. Saya melihatnya bukan seperti anak jahat tetapi saya melihat tentang apa yang bisa Allah lakukan dalam dirinya. Karena itu saya punya keinginan yang kuat membawa anak itu kembali kepada Tuhan. Saya mulai mendekati dia, menemaninya, mengajaknya makan dan melakukan banyak hal lainnya. Dan tidak sedikit pengorbanan yang telah saya berikan. Puji Tuhan, setahun kemudian anak itu dijamah Tuhan dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus. Setelah dewasa ia masuk sekolah Alkitab dan menjadi seorang pemimpin yang luar biasa bagi orang-orang muda. Dan dalam sebuah retreat anak muda, ia mengaku kepada anak-anak saya bahwa ia menjadi hamba Tuhan berkat pelayanan saya. Ia datang kepada Tuhan karena saya mau membetangkan kemah saya.

Seringkali kita malu dengan diri kita sendiri kalau kita melihat kisah para misionaris di zaman dulu. Mereka mengorbankan segala-galanya asalkan Injil diberitakan.

Dulu ada sebuah pulau yang hanya didiami para budak yang bekerja di perkebunan. Tidak ada orang yang bisa masuk ke pulau itu selain budak. Maka dua orang misionaris dari Eropa menjual diri mereka sebagai budak belian supaya bisa menjangkau dan memenangkan beberapa jiwa di pulau itu.

Dulu keadaan Afrika sangat mengerikan sebab wabah penyakit ada dimana-mana. Tetapi ribuan misionaris mendaftar untuk terjun ke Afrika. Waktu itu manusia hanya bisa bertahan hidup dua tahun saja. Karena itu para misionaris mengemas barang-barang mereka dalam peti mati, supaya kalau mati tinggal dimasukkan ke peti itu dan dikirim ke negaranya. Para misionaris itu tidak takut menyerahkan nyawanya demi menjangkau seseorang buat Yesus.

Kita juga harus sadar bahwa sekarang kita mengenal Injil karena ada orang yang telah membentangkan kemahnya kepada orang tua atau kakek-nenek kita.

Jadi, seberapa jauh anda melangkah untuk melapangkan kemah dan membentangkan tenda tempat kediamanmu. Kita harus menjadi kelompok yang siap untuk menuai, menjadi orang-orang yang rela meninggalkan kenyamanan demi keselamatan jiwa-jiwa. Tuhan Yesus memberkati!

Ringkasan Khotbah Dr. Jerry Stott (Amerika), Minggu 30 Maret 2014 (Ibadah Raya II)