log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 06 Oktober 2014 00:00

DAMAI DI HATI, RUKUN PADA SESAMA TUHAN MELIMPAHKAN BERKAT KEHIDUPAN

Written by  Pdt. Lasman Sinaga (Kuala Tanjung, Asahan)
Pdt. Lasman Sinaga (Kuala Tanjung, Asahan) Pdt. Lasman Sinaga (Kuala Tanjung, Asahan)

Kolose 3:15
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”

Firman Tuhan begitu jelas menekankan supaya damai sejahtera Kristus memerintah di hati kita. Kenapa? Kalau tidak ada damai di hati maka hidup kita akan penuh dengan perasaan kuatir, cemas dan risau.

Ada slogan berkata damai itu indah! Semua orang sebenarnya merindukan damai, baik di rumah tangga, di lingkungan pekerjaan, di tengah pergaulan, dan dalam semua aspek kehidupan manusia.

Dalam bahasa Ibrani, damai sejahtera Allah disebut 'Shalom'. Inilah salahsatu alasan saya membuat nama jemaat yang kami layani dengan GPdI Shalom. Kerinduan kami supaya semua jemaat mendapat damai sejahtera Allah dan GPdI Shalom membawa damai di sekitarnya.

Roma 16:20 “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” Sumber damai sejahtera adalah Allah. Kekayaan dan jabatan tidak menjadi jaminan untuk mendapat damai sejahtera. Damai sejahtera hanya datang dari Tuhan.

Iblis yang membuat manusia tidak damai. Selama Iblis belum dihancurkan maka manusia tidak akan mendapat damai sejahtera. Karena Allah menghancurkan Iblis di bawah kaki kita maka damai sejahtera Allah datang dalam hidup kita. Itu sebabnya kita harus selalu datang kepada Tuhan. Jangan tinggalkan pertemuan-pertemuan ibadah, seperti ibadah raya, ibadah wadah-wadah pelayanan, maupun pertemuan-pertemuan jemsel. Mari beribadah, bersekutu dan menyembah Tuhan. Sebab ketika kita berjumpa dengan Tuhan maka Allah memberikan damai sejahtera.

Kenapa kita bisa memperoleh damai sejahtera Allah? Karena kita sudah diperdamaikan dengan Tuhan oleh korban anak-Nya yang tunggal yaitu Tuhan Yesus Kristus. 2 Korintus 5:18. Semua kesalahan dan pelanggaran kita sudah diampuni dan dilupakan Tuhan. Dan kita berdamai dengan Tuhan dengan cara percaya kepada Yesus dan beribadah kepadaNya.
Namun, kita bukan hanya menerima damai sejahtera Kristus, tetapi juga musti menjadi pembawa damai atau pelayan-pelayan damai. Allah ingin berdamai dengan semua manusia. Untuk itu, sebagai anak-anak Tuhan kita harus menjadi pembawa-pembawa damai kepada sesama kita sehingga mereka juga berdamai dengan Tuhan dan mendapat damai sejahtera Allah.
Saya mempunyai lima orang saudara laki-laki dan dua orang perempuan. Oleh anugerah Tuhan, semasa hidup orang tua kami, mereka dapat membangun empat rumah. Dalam tradisi orang Batak, yang berhak mendapatkan rumah adalah anak laki-laki. Rumah yang dibangun hanya empat padahal kami ada lima orang laki-laki. Berarti satu orang tidak dapat rumah. Tetapi daripada ribut rebut-rebutan kepemilikan rumah itu maka saya ijinkan abang dan adek-adek saya mendapat rumah tersebut. Saya sendiri tidak dapat, tetapi saya berpikir bahwa kalau kelak saya membangun gereja pasti ada pastorinya atau rumah gembala. Puji Tuhan, sekarang kami telah membangun dua gereja dan dua pastorinya. Jadi kita musti berani berkorban demi kedamaian saudara-saudara kita. Kita harus bisa melepaskan sesuatu yang seharusnya menjadi hak kita supaya kita menjadi berkat damai kepada sesama. 

Bagaimana caranya mempertahankan damai sejahtera dalam hidup kita?

1) Hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Yesaya 32:17.

Damai sejahtera Allah akan tumbuh apabila kita hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Damai sejahtera Allah tidak bisa dibuat-buat. Namun dimana ada kebenaran di situ pasti ada damai sejahtera. Yohanes 17:17 mencatat bahwa kebenaran itu adalah firman Tuhan. Kalau hidup kita dikuasai oleh firman Tuhan maka kita pasti memperoleh damai sejahtera. Karena itu mari dengar, pelihara dan lakukan firman Tuhan supaya damai sejahtera Allah menjadi milik anda. Akibat damai sejahtera adalah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

2) Memaafkan atau mengampuni.

Mungkin anda pernah disakiti atau dirugikan orang lain. Tetapi anda jangan pernah menyimpan atau mempertahankan sakit hati. Kita musti memaafkan, mengampuni dan tidak membalaskan segala perbuatan jahat orang lain. Saya perhatikan bahwa Tuhan selalu bertindak kepada orang-orang yang suka bersikap kasar atau berbuat jahat kepada kita. Karena itu jangan membuang-buang tenaga untuk membalas tetapi serahkan saja kepada Allah sebab pembalasan adalah hak Tuhan. Roma 12:18-19.

Jadi salahsatu cara untuk memelihara damai sejahtera dalam hidup kita adalah dengan memaafkan atau mengampuni orang lain. Sedapat-dapatnya kita musti berdamai dengan musuh. Jangan pernah balas kejahatan dengan kejahatan. Tuhan bisa murka kepada orang tetapi jangan sampai kita dimurkai Tuhan karena tidak mau mengampuni orang lain.

Mazmur 133:1-3. Betapa elok, betapa indah, kalau kita hidup damai dan rukun satu sama lain. Ciptakanlah kerukunan dan mulailah dari rumah tangga anda. Jemaat yang rukun atau jemaat yang hidup dalam damai pasti diberkati Tuhan.

Konon katanya di Israel jarang turun hujan. Tetapi tanam-tanaman terus tumbuh subur sebab embun gunung Hermon turun ke gunung-gunung di bawahnya yakni gunung-gunung Sion. Berkat kehidupan turun dari gunung Hermon ke gunung-gunung Sion, turun dari atas ke bawah. Yesus adalah Imam Besar kita. Kalau ada kerukunan dan damai sejahtera maka urapan Tuhan akan datang dari Yesus kepada kita. Dan urapan Roh Kudus biasanya turun kepada gereja melalui para gembala sidang atau para hamba Tuhan. Itu sebabnya saya selalu belajar untuk tidak pernah melawan pimpinan saya. Sebab saya tahu bahwa Tuhan menurunkan urapan melalui mereka. Dan sebagai jemaat, supaya urapan Tuhan turun ke atas anda, maka anda musti rukun dengan gembala, patuh kepada gembala, sehingga minyak urapan Roh Kudus dan berkat-berkat mengalir dalam kehidupan anda. Ingat, bukan kita yang mencari berkat, tetapi Tuhan akan perintahkan berkat kepada orang yang hidup dengan rukun dan damai. Tuhan Yesus memberkati!


Ringkasan Khotbah Pdt. L. Sinaga (Kuala Tanjung, Asahan), Minggu, 28 September 2014 (Ibadah II)