log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 13 Oktober 2014 00:00

YESUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

Written by  Daniel A. Brown, Ph.D (Amerika)

Matius 5:17

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Saya sudah mendengar dan mendapat banyak pengajaran tentang Kristus menggenapi kitab para nabi. Apalagi dalam empat kitab Injil banyak kita temukan ayat yang berkata “genaplah firman Tuhan yang dinubuatkan oleh nabi ....”. Tetapi kalau Kristus menggenapkan hukum Taurat, mungkin banyak orang yang tidak mengerti dan bingung. Kita tahu bahwa hukum Taurat adalah serangkaian hukum dan peraturan. Namun Matius 5:17 berkata bahwa Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Apakah hukum Taurat bisa merupakan sebuah nubuatan? Mungkinkah seperangkat peraturan dan larangan menjadi sebuah nubuatan?

Untuk menjawab ayat ini saya belajar dengan membuka kitab Imamat. Meskipun kitab Imamat bukanlah kitab favorit saya sebab menurut saya kitab Imamat hanya berisi perintah-perintah, larangan-larangan, dan ketetapan-ketetapan hukum Taurat. Namun ketika saya baca Imamat pasal 1 sampai pasal 7, saya tidak mendapati tentang perintah. Tujuh pasal pertama berbicara tentang pengorbanan, penebusan dan pengampunan. Tuhan seakan-akan menunjukkan bahwa sebelum Dia memberikan peraturan kepada umat-Nya, Tuhan telah sediakan pengampunan.

Karena itu akan salah besar kalau para pengajar Alkitab berkata bahwa tidak ada pengampunan di zaman Taurat. Taurat diberikan beserta dengan pengampunan.

Perhatikan ayat yang luar biasa berikut ini yang saya kutip dari kitab Imamat;

Imamat 15:31 – “Begitulah kamu harus menghindarkan orang Israel dari kenajisannya, supaya mereka jangan mati di dalam kenajisannya, bila mereka menajiskan Kemah Suci-Ku yang ada di tengah-tengah mereka itu."

Ayat di atas merupakan tema sentral dari kitab Imamat. Inilah tujuan hukum Taurat diberikan yaitu untuk memisahkan antara umat Tuhan dengan dosa mereka. Pada awal sejarah manusia yakni sebelum hukum Taurat diberikan, tidak ada satu pun perbuatan manusia yang dikenali sebagai dosa. Orang-orang telah melakukan kesalahan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa itu salah dan dosa. Karena itu tidak mungkin Allah menyampaikan pengampunan kepada manusia kalau manusia itu sendiri tidak mengerti dan mengetahui apa itu dosa.
Sekitar 25 tahun yang lalu, istri saya menderita sakit dan amat sakit. Kami sudah berdoa dan berpuasa tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh. Namun persoalan yang paling besar adalah karena dokter tidak berhasil mendiagnosa penyakit istri saya. Karena itu terkadang istri saya berkata, sekiranya  penyakit saya ini kanker, atau penyakit ini atau itu. Maksudnya adalah sekiranya dokter bisa mengenali penyakitnya maka dokter akan bisa mengobatinya. Demikianlah keadaan manusia sebelum hukum Taurat. Tidak ada diagnosa dosa karena hukum Taurat belum diberikan.

Mungkin banyak di antara kita menyangka bahwa Tuhan memberikan hukum Taurat supaya umat Tuhan bersikap baik. Tetapi sebenarnya Tuhan memberikan hukum Taurat karena Dia mengasihi umatNya. Tuhan ingin memisahkan mereka dari dosa, dari segala hal yang salah.

Seseorang yang melakukan tindakan kriminal akan mendapat hukuman yang setimpal. Tetapi pasti tidak ada pengadilan di dunia ini yang menyampaikan vonis hukumannya yang berat dan sekaligus membacakan pembebasannya. Namun Allah memberikan hukum Taurat supaya umat-Nya mengetahui dosanya tetapi Allah juga menyampaikan pengampunan atas dosa itu. Jadi kita mengetahui kesalahan kita tetapi juga mengetahui pengampunan yang diberikan Tuhan.

Kisah yang dicatat dalam kitab Imamat pasal 16 mungkin belum terlalu anda tahu. Tetapi dalam pasal itu diuraikan bagaimana satu kali dalam setahun Imam Besar harus masuk ke ruang mahakudus kemah suci untuk mempersembahkan korban atas dosa bangsa Israel. Ada tiga binatang yang disediakan pada upacara tahunan ini, yaitu satu lembu dan dua kambing.

Sebelum masuk ke ruang mahakudus, binatang pertama yaitu lembu harus disembelih. Kemudian darahnya dipercikkan di seluruh tubuh imam besar. Secara rohani, darah itu membersihkan atau menguduskan dari segala kenajisan. Meskipun dia seorang imam besar, ia tidak bisa merasa cukup kudus masuk ke ruang mahakudus. Padahal sebagai imam besar, tentu dia adalah orang yang baik dan taat kepada hukum Taurat. Namun sebelum imam besar melangkah ke ruang mahakudus ia musti dikuduskan dengan darah. Jadi kita tidak bisa merasa kudus kecuali kalau kita sudah dibersihkan dengan darah Kristus. Sangat keliru kalau ada orang yang mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi benar atau kudus hanya dengan upayanya sendiri menjadi kudus. Mereka sebenarnya telah menolak darah Kristus yang menguduskan manusia.

Kemudian binatang yang kedua disembelih, lalu darahnya diperciki ke seluruh ruangan mahakudus termasuk tutup pendamaian. Sebenarnya dalam setahun tidak ada seorang pun yang pernah masuk ke ruangan itu. Jadi ruangan itu patut menjadi ruangan yang mahakudus di seluruh dunia. Tetapi ternyata ruang mahakudus musti dikuduskan lagi dengan darah. Jadi dari sini kita lihat bahwa ternyata tidak ada tempat yang kudus di dunia ini.

Lalu binatang yang ketiga yaitu seekor kambing, disebutkan sebagai korban kesalahan. Imam Besar yang berada di ruang mahakudus akan menumpangkan tangan di atas kepala kambing itu sambil mengakui semua dosa bangsa Israel. Imam besar akan merinci semua dosa bangsa itu. Tentu kita tidak bisa pahami sepenuhnya tentang dinamika rohani yang terjadi saat itu. Tetapi melalui penumpangan tangan itu terjadi peralihan dosa seluruh bangsa Israel ke atas kambing itu. Kemudian seseorang akan membawa binatang itu jauh ke padang gurun. Tugas utama orang itu adalah membawa kambing itu dan memastikannya tidak mungkin kembali lagi ke perkemahan umat Tuhan. Di tengah situasi yang sarat dengan peraturan-peraturan dan larangan-larangan, ada satu janji di mana seekor anak domba membawa semua dosa Israel.

Sekarang kita mengerti ucapan Yohanes pembaptis ketika melihat Yesus ia berkata : “Lihat Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Yesus-lah domba penebusan itu. Yesus yang telah memikul semua dosa dunia dan membuangnya jauh-jauh. 

Karena itu layaklah Anak Domba Allah ditinggikan di tempat yang mahatinggi dan menerima seluruh hormat dan kemuliaan. Sebab Yesus telah mengerjakan tugas terbesar yang Allah bebankan kepadanya yaitu membawa dan membuang jauh-jauh semua dosa manusia. Dan benarlah apa yang dikatakan Yesus bahwa Dia datang untuk menggenapi hukum Taurat dan memenuhi semua nubuatan para nabi. Tuhan memberkati!

Ringkasan Khotbah Ps. Daniel A. Brown, Ph.D (Amerika), Minggu, 5 Oktober 2014 (Ibadah Raya II)