log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 10 November 2014 00:00

Kasih Allah Dalam Keluarga

Written by  Ps. Ap Verwaijen (Belanda)
Ps. Ap Verwaijen (Belanda) Ps. Ap Verwaijen (Belanda)

Maleakhi 4:5-6

“Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”

Ketika terjadi 'perang' dalam keluarga, atau keluarga terpecah yang berakhir dengan perceraian, sebenarnya itu adalah sebuah kutuk. Namun Tuhan tidak ingin mengutuk bumi, tetapi Ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik ke anak-anak dan hati anak-anak kepada bapa-bapa. Firman Tuhan ini diulang kembali dalam Injil Lukas 1:17. Ayat ini berbicara tentang Yohanes pembaptis, seorang nabi besar yang mengumumkan kedatangan Yesus. Kedatangan Yesus akan memulihkan hubungan bapa-bapa dengan anak-anak dan anak-anak dengan bapa-bapa.

Yesus melakukan pemulihan bukan hanya 2000 tahun lalu tetapi terlebih lagi sekarang di akhir zaman ini. Kegelapan memang semakin gelap tetapi cahaya Tuhan juga semakin terang bersinar dan gereja Tuhan bertumbuh di mana-mana. Namun Tuhan tidak mau kita hanya bertumbuh dalam jumlah, tetapi juga dalam kerohanian. Sehingga kita mengetahui betapa panjang, lebar, luas dan dalamnya KASIH ALLAH.

KASIH mempunyai pengertian yang beragam. Namun manusia umumnya memahami bahwa kasih itu hanya sebatas perasaan. Tetapi ketika Tuhan mencurahkan Kasih-Nya, maka kita akan mengetahui kasih yang sesungguhnya dan kita tahu bagaimana mengasihi dengan benar.

Pertamakali saya mengenal Anita, istri saya, saya masih berumur 21 tahun. Anita yang lebih dulu mengenal saya melalui sebuah foto. Lalu dia membuat sebuah taktik untuk bisa berjumpa dengan saya. Melalui pertemuan itu saya mengenal Anita dan terpesona kepadanya. Setelah itu kami berpacaran beberapa waktu lamanya. Di Belanda hampir tidak ada aturan tentang pernikahan. Tetapi kemudian saya merasa takut tidak dapat menjalankan tanggungjawab saya kepadanya, sebab saya miskin dan masih kuliah. Lalu saya tinggalkan Anita dan tidak menjumpai dia beberapa waktu lamanya. Waktu itu saya belum sesungguhnya menjadi orang Kristen. Namun kemudian Tuhan mencurahkan kasih yang sejati kepada saya, dan saya sadari bahwa Anita adalah orang yang sesuai dengan saya. Kemudian saya datang ke rumahnya membawa bunga mawar dan menyatakan cinta saya yang sesungguhnya kepadanya. Karena kasih Tuhan saya mengambil sebuah keputusan dan komitmen untuk akhirnya menikah dengan Anita. Sebelumnya saya tidak mengenal cinta yang sesungguhnya sampai Tuhan memberikan cinta yang sejati kepada kami.

Kasih Illahi atau kasih 'Agape' sangat berbeda dengan kasih dunia ini. Kita mengenal kasih persaudaraan atau persahabatan. Tetapi kasih Tuhan lebih tinggi dari kasih persahabatan. Dalam rumah tangga diperlukan kasih Tuhan atau kasih agape. Sahabat bisa datang dan pergi, tetapi suami atau istrimu tetap tinggal bersamamu.

Pernikahan adalah sebuah perjanjian (covenant), bukan sebuah persahabatan atau hubungan biasa. Yesus mengadakan perjanjian baru dengan umat-Nya di atas kayu salib. Yesus setia bagi kita dan senantiasa mengasihi kita. Kasih Tuhan itu tidak bersyarat. Kasih Tuhan itu tidak terukur. Seringkali kita berbuat dosa dan melakukan hal-hal yang bodoh, tetapi ketika kita kembali kepada Tuhan dan mohon ampun, maka dengan kasih Dia mengampuni dosa kita.

Pengampunan adalah hal yang penting dalam hidup orang percaya, terlebih-lebih dalam kehidupan pernikahan. Tetapi sebenarnya banyak orang lebih susah memohon ampun daripada mengampuni. Sebab ketika anda mohon ampun berarti anda mengakui kesalahan. Dan kebanyakan orang merasa tidak mempunyai kesalahan, dan menuduh orang lain saja yang salah. Sebelum menjadi hamba Tuhan, selama 10 tahun saya menjadi seorang pengacara, dan saya banyak menangani kasus perceraian. Saya perhatikan bahwa banyak sekali suami-istri akhirnya bercerai karena tidak mau memohon ampun dan memberikan pengampunan. Pengampunan dan pengakuan harus selalu ada dalam keluarga Kristen, sehingga rumah tangga tetap utuh dan terpelihara.

Beberapa orang muda takut membangun rumah tangga. Tetapi nasihat saya bagi orang-orang muda, jangan takut menikah, sebab Tuhan ada dalam perkawinan. Hanya, waktu anda masih sendiri (single), jadilah teguh dan kuat dalam iman. Jangan pernah memberikan hidupmu kepada dosa. Anda harus belajar dalam penguasaan diri. Kitab Ibrani berkata bahwa latihlah dirimu beribadah, artinya disiplinkan dirimu, berdoa dan berpuasa untuk dirimu, sehingga anda menjadi orang Kristen yang dewasa.

Ada tiga level komunikasi dalam membangun pernikahan yang kuat, yaitu tahapan dalam hati, dalam jiwa dan dalam tubuh jasmani kita. Kita musti saling berbagi perasaan dengan pasangan kita. Hal ini dilakukan dengan cara berbicara, mengobrol atau berdiskusi dengan pasanganmu. Tetapi anda juga musti menyatukan roh yaitu dengan cara berdoa bersama-sama. Biasakan sebagai suami-istri anda berdoa bersama-sama. Dan yang terakhir adalah keintiman atau kesatuan tubuh. Ketiga hal ini merupakan kesatuan roh, jiwa dan tubuh dalam pernikahan. Banyak pernikahan lupa bagaimana untuk intim satu dengan yang lain, mereka saling mengacuhkan, tidak saling berdoa, dan tidak saling mencurahkan isi hati.

Suatu ketika istri saya, Anita, terbaring di rumah sakit. Melalui peristiwa itu kami disadarkan Tuhan bahwa selama ini hubungan pernikahan kami sudah mulai renggang. Kami Kristen tetapi jarang berdoa bersama. Bahkan tidak ada waktu lagi untuk saling mengungkapkan perasaan. Karena itu setelah keluar dari rumah sakit, kami mulai lagi hidup baru dan pernikahan baru. Kami mulai lagi belajar bagaimana mengobrol dari hati ke hati, dan kami juga belajar bagaimana saling mendoakan.

Karena itu perhatikan dengan baik kehidupan perkawinanmu. Dan lakukan apa yang diperintahkan Tuhan supaya keluargamu berbahagia. Pada waktu anda mau menjadi dewasa dalam Tuhan, maka Tuhan akan membuat anda menjadi rekan kerja-Nya. Roh Kudus akan membantu keluarga anda bertumbuh dalam iman, dalam Roh, serta memberikan kekuatan untuk bertahan terhadap si jahat.

Inilah waktunya Tuhan melakukan pemulihan dalam keluarga-keluarga. Para orangtua, disiplinlah anak-anakmu dengan penuh kasih. Jadilah keluarga yang kuat, jadilah orangtua yang tangguh, yang penuh kasih Allah. Tuhan Yesus memberkati!

Ringkasan Khotbah Ps. Ap Verwaijen (Belanda), Minggu, 2 Nopember 2014 (Ibadah II)