log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 01 Desember 2014 00:00

HIDUP DALAM PERJANJIAN TUHAN

Written by  Pdt. Melky Arobaya (Bintaro)
Pdt. Melky Arobaya, Gembala GPdI Sejahtera, Bintaro, Jakarta Selatan. Pdt. Melky Arobaya, Gembala GPdI Sejahtera, Bintaro, Jakarta Selatan.

Keluaran 4:1-5

Kita tentu mengetahui cerita ini di mana Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, Tuhan menunjukkan beberapa mujizat sebagai tanda bahwa Tuhan menyertai Musa.

TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat." Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya" -- Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya. (ayat 2-4).

Tongkat adalah sesuatu yang sangat sederhana yang ada di tangan Musa. Tetapi ketika diserahkan kepada Tuhan maka mujizat terjadi. Musa sebenarnya tidak menyadari bahwa Tuhan ada di tempat itu. Mungkin tadinya dia berpikir bahwa sisa hidupnya hanyalah sebagai seorang gembala domba. Waktu saya muda, saya juga pernah berpikir bahwa Tuhan tidak akan memakai saya. Tetapi Tuhan setia dan mencintai kita semua, sehingga kita dipakai dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Apa yang anda miliki sekarang, apa yang ada di tangan anda atau apa talenta yang anda punya. Tidak ada seorang pun anak Tuhan yang hidup tanpa talenta. Apa di dalam hidup anda yang dapat diserahkan kepada Tuhan untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya.

Keluaran 7:8-12. Musa memanggil Harun saudaranya untuk ikut bersamanya menghadap Firaun, raja Mesir. Alkitab berulangkali mencatat bahwa mereka berbuat seperti yang diperintahkan Tuhan. Seringkali kita hidup menurut pikiran dan kemauan kita sendiri. Tidak ada gunanya kita mendengar firman Tuhan kalau kita tidak lakukan. Itu sebabnya kita perlu berdoa atau bersaat teduh di pagi hari. Doa pagi bukan hanya kita berbicara dengan Tuhan, tetapi kita belajar untuk mendengar kehendak Tuhan bagi kita di sepanjang hari itu. Kita seperti menyodorkan kertas kosong kepada Tuhan dan Tuhan mengisi kertas kosong itu dengan rencana-Nya, kehendak-Nya dan perintah-perintahNya, lalu kita tandatangani sebagai sebuah komitmen untuk menerapkan firman Tuhan dalam hidup kita.

Firaun, raja yang paling hebat di dunia pada masa itu, tidak mau mendengarkan Musa dan Harun. Sehingga Musa melemparkan tongkatnya dan tongkat itu berubah menjadi ular. Tetapi Firaun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir Mesir dan dengan ilmu manteranya mereka membuat tongkat menjadi ular. Namun ular yang dibuat Musa dan Harun menelan habis semua ular-ular yang dibuat oleh tukang sihir Mesir. Allah kita perkasa dan kuasa Tuhan lebih besar dari kekuatan-kekuatan dunia ini.

Ketika Firaun masih mengeraskan hati dan tidak membebaskan bangsa Israel, Musa memukul sungai Nil dengan tongkatnya, dan air sungai Nil yang berwarna biru itu berubah semuanya menjadi darah. Keluaran 7:20. Air merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting, tetapi waktu itu air di tanah Mesir berubah menjadi darah sehingga tidak bisa digunakan. Tetapi walaupun demikian, Firaun tetap mengeraskan hati. Karena itu, Musa kembali memukul tongkatnya ke atas debu tanah, dan debu itu menjadi nyamuk di seluruh Mesir. Bukan hanya itu, Musa juga diperintahkan Tuhan untuk mengulurkan tongkatnya ke langit, lalu turunlah hujan es melanda tanah Mesir.

Jadi talenta kita tidak boleh dipendam. Berbagai mujizat terjadi lewat tongkat Musa, karena tongkat itu diserahkan bagi kemuliaan Tuhan.

Tongkat adalah simbol dari kuasa Allah. Yesus berpesan kepada murid-muridNya supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan. Markus 6:8. Maksud Yesus adalah supaya murid-murid jangan bergantung kepada hal-hal jasmani tetapi musti bergantung kepada kuasa Allah.

Dalam Keluaran 14:16 ditulis bahwa tongkat Musa juga dipakai membelah laut Teberau, sehingga bangsa Israel bisa melewatinya. Tongkat dipakai untuk membuka jalan yang tadinya buntu menjadi terbuka oleh kuasa Allah.

Keluaran 17:9 mencatat bahwa tongkat Allah dipegang Musa ketika melawan Amalek. Amalek adalah gambaran dari sifat keakuan kita, yakni karakter dan sifat kita yang jelek. Dan Harun dan Hur menopang Musa mengangkat tongkat. Sebab ketika tangan Musa turun maka kalahlah bangsa Israel, tetapi ketika tangannya diangkat maka menanglah Israel. Kerjasama ketiga hamba Tuha ini berbicara tentang doa syafaat. Ada kuasa besar dalam doa syafaat. Apabila kita setia berdoa maka sifat kita yang buruk akan hilang.

Keabsahan Harun sebagai imam besar di antara orang Israel dinyatakan melalui tongkat Harun yang berbunga. Bilangan 17:8. Kita sangat berbahagia karena Tuhan memilih kita sebagai pelayan-pelayannya.

Namun meskipun Tuhan memakai kita luar biasa dengan talenta yang kita miliki, kita musti tetap menghormati dan mendengar suara Tuhan. Keluaran 20:11. Ketika bangsa Israel ribut karena tidak mendapatkan air, Tuhan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada bukit batu supaya mengeluarkan air. Tetapi Musa tidak berbuat demikian, ia memukul bukit batu itu sebanyak dua kali lalu keluarlah banyak air. Akibat dari kesalahannya, Musa tidak diijinkan Tuhan memimpin bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Kita musti belajar mendengar dan menghormati Tuhan.

Tongkat atau talenta yang kita miliki akan menjadi tidak berguna apabila tidak ada urapan. 2 Raja-raja 4:31. Ketika anak seorang perempuan Sunem meninggal, Gehazi hamba Elisa meletakkan tongkat di atas anak itu, tetapi tidak terjadi apa-apa. Tanpa kuasa dan otoritas Tuhan maka mujizat tidak terjadi. Gehazi termasuk seorang yang tidak jujur dalam pelayanannya. Otoritas dan kuasa akan hilang apabila kita tidak hidup sesuai kehendak Tuhan.

Kejadian 38:18. Yehuda pernah tidur dengan seorang perempuan, dan perempuan itu meminta cap meterai, kalung dan tongkatnya. Ini sesuatu yang sangat menyedihkan, sebab tongkat yang merupakan lambang otoritas diambil daripadanya. Tetapi kalau kita baca Kejadian 49:10, ternyata Yehuda bertobat sehingga nubuatan tentang Yehuda berkata bahwa tongkat kerajaan tidak beranjak dari Yehuda. Pertobatan mengembalikan kita ke dalam tangan Tuhan dan kembali dipakai Tuhan.

Karena itu apa yang anda miliki sekarang, talenta apa yang diberikan Tuhan kepada anda, pakailah itu bagi kemuliaan Tuhan. Jangan iri dengan tongkat orang lain, tetapi gunakanlah tongkat yang ada di tanganmu maka mujizat Tuhan akan menyertai kita. Haleluyah!

Ringkasan Khotbah Pdt. Melky Arobaya (Bintaro, Jakarta) Minggu, 23 Nopember 2014 (Ibadah II)