log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 19 Januari 2015 00:00

DIRHAM YANG HILANG (Identitas Kekristenan yang Hilang)

Written by  Pdt. JS. Minandar (Tegal, Jawa Tengah)
Pdt. JS. Minandar, Gembala Sidang GPdI Mahanaim, Tegal, dan Wakil Sekretaris Umum Majelis Pusat GPdI serta Wakil Ketua Majelis Daerah GPdI Jawa Tengah. Pdt. JS. Minandar, Gembala Sidang GPdI Mahanaim, Tegal, dan Wakil Sekretaris Umum Majelis Pusat GPdI serta Wakil Ketua Majelis Daerah GPdI Jawa Tengah.

Lukas 15:8-10

Dalam Injil Lukas pasal 15 kita menemukan tiga perumpamaan yang disampaikan Yesus, dan semua perumpaan itu membahas tentang yang hilang, yaitu ayat 1-7 perumpaan tentang domba yang hilang, ayat 8-10 perumpaan tentang dirham yang hilang dan ayat 11-32 perumpamaan tentang anak yang hilang.

Ketiga perumpamaan ini sebenarnya menggambarkan tentang tingkat kerohanian/kekristenan. Perumpamaan yang pertama yaitu perumpamaan tentang domba yang hilang, menggambarkan Kristen tingkat domba. Sedangkan tingkat yang kedua adalah perumpamaan tentang anak yang hilang, menggambarkan tingkat kekristenan orang muda, sebab tokoh utama dalam kisah ini adalah seorang anak muda yang kemudian terhilang dari rumah bapanya. Dan tingkat yang ketiga adalah perumpamaan tentang dirham yang hilang, menggambarkan tentang kekristenan tingkat calon mempelai wanita, yang adalah puncak dari kekristenan.

Dalam surat 1 Yohanes 2:12-14 Yohanes juga menjelaskan tentang tingkat-tingkat kekristenan dalam jemaat, yaitu tingkat anak-anak, orang muda dan bapa-bapa. Di sini Yohanes bukan berbicara tentang kelompok usia atau jenis kelamin, tetapi tentang tingkat kekristenan yang dimulai dari kanak-kanak, bertumbuh menjadi orang muda, dan kemudian menjadi bapa-bapa, yakni figur manusia yang sudah matang atau dewasa penuh, dan inilah yang dikehendaki Tuhan.

Injil Lukas pasal 15 dengan suratan 1 Yohanes pasal 2 mengkonfirmasi bahwa seperti inilah tingkat-tingkat kekristenan dalam jemaat, yaitu domba - anak-anak, orang muda, calon pengantin perempuan – bapa / dewasa penuh.

Berikut karakteristik dari tingkat-tingkat kekristenan ini :

Tingkat Kekristenan Domba, menggambarkan orang Kristen pemula, atau istilah yang digunakan Yohanes adalah kanak-kanak. Pengenalannya masih terbatas. Dia percaya kepada Tuhan Yesus hanya karena Dia adalah Gembala yang baik yang menyediakan semua kebutuhannya. Cenderung kekristenan tingkat ini selalu diukur dengan materi. Dan biasanya kekristenan pemula atau Kristen domba ini tahunya hanya berteriak atau mengembik seperti domba, selebihnya tidak bisa. Maka kekristenan pada tingkat ini justru banyak menyusahkan gembala. Bayangkan Gembala harus meninggalkan 99 domba di kandang hanya untuk mencari satu yang hilang. Sebab kekristenan seperti ini mudah disesatkan dan terhilang. Karena itu tidak ada pilihan, Kristen domba/kanak-kanak harus bertumbuh dalam peningkatan yang lebih dewasa.

Tingkat Kekristenan Orang Muda, menggambarkan orang Kristen yang mulai bertumbuh. Kristen anak muda lebih baik dibandingkan dengan Kristen domba. Kalau kita cermati dari surat 1 Yohanes 2, tingkat kekristenan orang muda sudah mengerti bahwa kehidupan itu seperti orang yang berperang, ada musuh-musuh yang harus dikalahkan, yang mana bisa menewaskan kita kalau kita tidak mempunyai perlengkapan-perlengkapan rohani. Itu sebabnya Kristen orang muda mengerti kebutuhan di dalam kehidupannya yaitu kebenaran firman Tuhan dan kekuatan Illahi. Juga dalam perumpamaan yang dicatat dalam Lukas 12, orang muda itu berhak mewarisi harta bapanya. Setelah kita dilahirkan baru dan dibaptis, kita berhak menerima kekayaan sorgawi, mulai dari kepenuhan Roh Kudus, karunia-karunia Roh, dan berbagai-bagai hal lainnya untuk melayani.

Namun tingkat kekristenan orang muda tidaklah cukup, sebab masih dikuasai keinginan diri. Bukan apa yang Bapa kehendaki yang dipikirkan tetapi apa yang dia sendiri pandang adalah baik yang dipikirkan. Itu sebabnya ketika dia menerima kekayaan dari bapanya, dia berpikir bagaimana menggunakan kekayaan itu menurut konsep dirinya, bukan menurut konsep bapanya. Dia masih ingin kesenangan dunia bahkan memilih menjauh dari bapanya supaya bisa melakukan kesenangan menurut kehendak hatinya. Dan akhir hidup Kristen orang muda sangat menyedihkan yaitu berakhir di kandang babi. Memalukan dan menyedihkan! Karena itu jangan berhenti pada tingkat kekristenan orang muda yang cenderung keinginan diri yang menonjol bukan keinginan Tuhan dan firmanNya. Kita harus bertumbuh ke tingkat kekristenan berikutnya.

Tingkat Kekristenan Calon Mempelai. Ini adalah figur anak Tuhan yang dewasa, matang dan siap untuk menikah. Dalam 1 Yohanes 2 digambarkan dengan figur seorang bapa, seorang yang dewasa dan bertanggungjawab. Ia terikat dan bertanggungjawab dengan tugas yang dipercayakan kepadanya yaitu di rumah. Dalam perumpaan dalam Lukas pasal 15 kita perhatikan bagaimana wanita yang kehilangan mata dirham itu orientasinya bukan di gunung atau di lembah apalagi di kandang babi, tetapi di rumah.

Ada dua rumah dalam artian rohani yang harus kita pelihara :

1) Rumah pribadi.

1 Korintus 6:19. Ini menyangkut tentang kehidupan pribadi kita yang harus kita jaga. Orang Kristen yang bertumbuh dengan baik akan memperhatikan kekudusannya, baik roh, jiwa dan tubuh agar tidak dicemari oleh hal-hal dosa. Dari ujung rambut di kepala sampai telapak kaki harus kita jaga kekudusannya. Karena Tuhan akan memperhatikan tanggungjawab kita untuk kekudusan rumah yang pertama yaitu kehidupan pribadi kita.

2) Rumah yang besar.

1 Korintus 3:16. Kata 'kamu' dalam ayat ini bukan menunjuk kepada orang pribadi tetapi menunjuk kepada sidang jemaat di Korintus. Yang disebut rumah Allah pada masa sekarang bukan berbicara tentang bangunan atau gedung gereja tetapi perhimpunan jemaat. Karena itu jangan sampai ada seorang pun di antara kita yang mencoba untuk mencabik-cabik atau memecah belah sidang jemaat. Melainkan sebagai pribadi yang mencapai tingkat kerohanian calon mempelai harus memelihara persekutuan dengan begitu rupa.

Sehingga setiap kali kita berkumpul Allah hadir dan memberkati kita. Allah akan membuat perhitungan apabila ada orang yang bermain-main dengan pekerjaan Tuhan. Baca 1 Korintus 3:17.

Namun dalam tingkat kekristenan dewasa yang digambarkan dengan wanita yang siap untuk menikah tidak berarti sudah sempurna. Sebab dalam perumpamaan itu disebutkan bahwa wanita itu kehilangan mata dirham. Hal ini mengingatkan kita agar jangan lalai. Janganlah sampai terjadi, di mana kita kerja, melayani, aktif di gereja, tetapi ada nilai-nilai kekristenan yang hilang dalam diri kita. Kita jangan kehilangan 'mata dirham' (identitas pengikut Kristus).

Kenapa wanita itu begitu gelisah dan ketakutan ketika dirhamnya hilang? Di zaman dulu pernikahan didahului dengan pertunangan. Bandingkan Matius 1:18. Masa pertunangan penting, sebab masa itu digunakan untuk persiapan biaya pesta dan persiapan kebutuhan rumah tangga kelak. Tetapi masa pertunangan juga digunakan untuk menguji sejauh mana kesetiaan sang calon mempelai perempuan. Karena itu dalam prosesi pertunangan itu, di hadapan keluarga kedua pihak, para tetangga dan kerabat, calon mempelai laki-laki menyematkan seuntai kalung dengan sejumlah mata dirham kepada calon mempelai wanita. Setelah itu calon mempelai pria pergi merantau dan meminta sahabatnya memantau sikap dan perilaku calon mempelai wanita. Apabila calon mempelai wanita tidak setia, secara diam-diam ia ambil mata dirham pada kalung yang dikenakan calon mempelai wanita tersebut. Dan apabila mata dirham itu tidak utuh ketika mempelai pria kembali, maka pernikahan akan dibatalkan. Itu sebabnya, perempuan yang telah kehilangan mata dirham itu, mencari dirham itu dengan sungguh-sungguh sebab itu menyangkut masa depannya.

Ini adalah hal yang Alkitabiah. Yesus pergi ke sorga dan akan datang kembali menjemput kita 'calon mempelai wanita'. Dan sekarang orang percaya ada dalam pantauan Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan penilaian kepada kita ketika Yesus datang kembali. Dan ketika ada satu mata dirham yang hilang itu sudah cukup alasan untuk gagalnya pernikahan dan Tuhan berkata kepada mempelai perempuan : “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Baca Matius 7:21-23. Karena itu perhatikan agar jangan sampai kita kehilangan nilai-nilai kekristenan.

II Korintus 11:2,3. Paulus membina jemaat Korintus dari tidak kenal Yesus sampai Kristen Domba/Anak-anak, Kristen orang muda, dan Kristen calon mempelai. Tetapi Paulus merasa kuatir/takut jemaat itu kehilangan “KESETIAAN.”

Di akhir zaman, banyak pengikut Yesus yang kehilangan mata dirham yang seharusnya dijaga/dipelihara. 2 Timotius 3:1-5. Ada 19 nilai-nilai kekristenan yang seharusnya melekat dalam diri kita tetapi menjadi hilang karena pengaruh akhir zaman. Antaralain : Kasih digantikan cinta akan uang, hamba Kristus menjadi hamba uang, kejujuran digantikan kebohongan, rendah hati menjadi sombong, kepercayaan menjadi pemfitnah, penundukan menjadi berontak, syukur menjadi persungutan, empati menjadi kekerasan, iman menjadi nalar/rasio, roh pengampunan menjadi dendam, solidaritas menjadi menjelekkan, pengawasaan diri menjadi hawa nafsu, lemah lembut menjadi garang, kebaikan menjadi mencelakakan, kesetiaan menjadi pengkhianatan, pengharapan menjadi putus asa, haus Firman Allah menjadi berlagak tahu, taat kepada firman Allah menjadi umbar nafsu, dan ibadah menjadi formalitas/munafik.

Kira-kira kalau Tuhan Yesus datang sekarang, apakah mata dirham yang melekat pada anda masih utuh? Ketika wanita itu sadar bahwa ada mata dirham yang hilang, ia mencarinya bukan di pasar atau di toko tetapi di rumah. Ketika anda merasa bahwa ada nilai-nilai kekristenan yang hilang dari hidupmu, maka carilah itu di rumah Tuhan. Berseru dan minta supaya dikembalikan Tuhan, sehingga kita menjadi gereja yang siap menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Tuhan Yesus memberkati!

Ringkasan Khotbah Pdt. JS. Minandar (Tegal, Jateng), Minggu, 11 Januari 2015 (Ibadah II)