log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 02 Maret 2015 00:00

Kesetiaan yang Sejati

Written by 
Pdt. Samuel Soengdjadi, Gembala Sidang GPdI Ecclesia, Pekanbaru, Riau Pdt. Samuel Soengdjadi, Gembala Sidang GPdI Ecclesia, Pekanbaru, Riau

Lukas 12:42-44
“…… Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.”

Setiap orang percaya diharapkan menjadi orang yang setia. Setia kepada Tuhan, setia di satu gereja. Jangan menjadi orang Kristen yang mudah tersinggung, dan akhirnya berpindah-pindah dari satu gereja ke gereja lainnya.

Kata 'setia' dalam Alkitab bahasa Inggris menggunakan kata 'faithfulness' dan juga 'long suffering' artinya setia dan tahan dalam penderitaan. Orang yang setia adalah orang yang telah berhasil mengorbankan perasaan. Meskipun dimarahi, diomelin, diejek, tetap setia.

Tetapi orang yang kita lihat nampaknya setia belum tentu setia menurut pandangan Tuhan. Mungkin seseorang selalu rajin beribadah, tidak pernah absen dalam doa dan puasa atau pun dalam kebaktian jemsel dan wadah pelayanan. Tetapi itu tidak menjadi seseorang disebut setia oleh Tuhan.

Hamba yang setia pasti diangkat menjadi pengawas atas milik tuannya. Seringkali kita tidak dipercayakan sesuatu karena kita tidak setia. Kesetiaan adalah elemen penting dalam hidup orang percaya.

Dalam Kejadian 39:2-4 kita membaca bagaimana Yusuf di rumah Potifar mendapat kuasa atas rumah dan seluruh milik Potifar. Penyebabnya adalah karena Yusuf disertai Tuhan dan juga setia.

Menurut Alkitab, bagaimana orang yang disebut setia?

Matius 25:14-26 ~ “Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Yang disebut dengan hamba yang setia adalah hamba yang mendapat talenta dari tuannya dan mengembangkannya ; lima talenta menjadi sepuluh, dua talenta menjadi empat. Mengembang artinya berbuah atau bertumbuh.

Sedangkan hamba yang tidak setia dan jahat adalah hamba yang menerima talenta tetapi tidak mengembangkannya. Hamba itu menyimpan talentanya, tidak berbuat apa-apa sampai tuannya datang. Alkitab mencatat bahwa hamba yang tidak melakukan apa-apa adalah hamba yang jahat dan malas. Hamba itu kelihatannya setia tetapi tidak berbuah, tidak mengerjakan apa-apa.

Karena itu kesetiaan anda beribadah belum menjadi ukuran bahwa anda orang yang setia di hadapan Tuhan. Kita harus rajin beribadah tetapi juga harus berbuah-buah yakni berdampak kepada orang lain. Kita tidak boleh hanya eksis ke gereja tetapi juga mempunyai pengaruh di keluarga, di tetangga, di pekerjaan dan lingkungan kita.

Apabila anda menghasilkan buah yang lebat, maka Tuhan pasti menyebutkan anda sebagai hamba yang baik dan setia.

Yohanes 15:4-7 ~ “…… Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”

Kalau orang percaya tidak berbuah, tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain, maka Tuhan akan mencampakkan dan membakarnya.

Itu sebabnya kita perlu memperhatikan bagaimana kita hidup. Jika pada hari Minggu kita beribadah, bagaimana dengan hari-hari lainnya, apa yang sudah anda lakukan? Apakah hari-hari itu anda pakai untuk menghasilkan buah yang lebat?

Nilai orang percaya tinggi sekali. Karena itu Tuhan tidak ingin anda berpangku tangan di dalam gereja. Kalau ada program kegiatan pelayanan, anda musti turut berkontribusi, jangan hanya sebagai penonton. Ikutlah menabur bersama-sama dengan orang lain. Ingat, orang yang menabur banyak akan menuai banyak, orang yang menuai sedikit akan menuai sedikit, dan orang yang tidak menabur apa-apa tidak akan menuai apa-apa.

Jadi kesetiaan yang dimaksudkan Tuhan bukan memelihara apa yang kita miliki melainkan melahirkan pelipatgandaan atau multiplikasi.

Amsal 20:6 ~ “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”

Tuhan bukan mencari orang yang baik hati tetapi orang yang setia. Kesetiaan seseorang dapat dibuktikan di akhir hidupnya. Suami atau istri yang setia adalah suami atau istri yang tetap bertahan dalam rumah-tangganya sampai maut memisahkan. Karena itu kesetiaan selalu dihubungkan dengan komitmen. Dalam pernikahan, komitmen suami dan istri sangat penting. Demikian juga dalam gereja, komitmen kita kepada Tuhan perlu sekali.

Orang yang setia akan menyelesaikan perjalanan dan pekerjaannya sampai selesai. Yohanes 17:4. Di kayu salib Yesus berkata : “Sudah selesai”. Yesus setia sampai mati, sampai mati di kayu Salib.

Allah yang memanggil kita adalah setia. 1 Korintus 1:9. 1 Tesalonika 5:24. Apa yang kita lakukan dengan setia pasti akan digenapi, diselesaikan Tuhan. Bd. Mazmur 37:25-26. Tuhan setia kepada orang-orang benar, anak-anaknya tidak akan kekurangan.

Karena itu jangan mundur, tetaplah setia. Meskipun sekarang anda sedang mengalami berbagai ujian dan percobaan tetapi ketahuilah bahwa Tuhan kita setia.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13

Tuhan Yesus memberkati!


Ringkasan Khotbah Pdt. Samuel Soengdjadi (Pekanbaru), Minggu, 22 Februari 2015 (Ibadah II)