log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 08 Juni 2015 00:00

FIRMAN ALLAH HARUS DI ATAS SEMUA KEBIASAAN/TRADISI

Written by  Pdt. M.D. Wakkary

Markus 7:1-9
“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."(ayat 8)

Dalam empat kitab Injil kita baca bagaimana Yesus memberitakan Injil (Kabar Baik) yaitu kabar keselamatan, kesembuhan, kebahagiaan, dan pertolongan luar biasa di dalam Yesus Kristus. Itu adalah perkara yang dicari dan diperlukan semua manusia.

Namun orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang belajar spesial akan hukum Taurat dan terkenal sebagai orang-orang yang berohani justru mengabaikan pengajaran Yesus. Mereka lebih mempersoalkan murid-murid Yesus yang makan tanpa membasuh tangannya sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi. Mencuci tangan sebelum makan memang adalah perbuatan yang baik apalagi dari segi kebersihan. Yesus memarahi dan menempelak keras orang-orang Farisi dan ahli taurat yang mengritik murid-muridNya. Sebab mereka mengritik murid-murid yang tidak mencuci tangan padahal mereka tidak mau melakukan hal yang lebih penting yaitu firman Allah.

Orang-orang Yahudi mempunyai banyak kebiasaan dan telah menjadi adat istiadat. Ada aturan dan bacaan-bacaan bagaimana makan, bagaimana mencuci kendi, bagaimana memasuki sebuah rumah, dan lain-lain dan lain-lain. Tradisi itu mereka terima dari nenek moyang dan sudah berlaku puluhan generasi. Samahalnya dengan orang-orang yang dewasa ini masih rajin pelihara adat tetapi malas membaca dan melakukan ajaran Yesus.

Namun Yesus marah karena orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu bukan karena mempersoalkan tentang mencuci tangan sebelum makan. Tetapi karena mereka lebih mengindahkan tradisi dan kebiasaan ketimbang mentaati perintah Tuhan yang penting bagi keselamatan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mempunyai banyak kebiasaan-kebiasaan dan seringkali tanpa kita sadari kebiasaan-kebiasaan itu telah mengatur dan menguasai kita.  Dan ada kalanya karena melakukan kebiasaan-kebiasaan itu kita melalaikan perintah yang lebih tinggi yaitu perintah Tuhan, firman Tuhan.

Dulu di kalangan gereja Pantekosta banyak aturan-aturan yang menjadi kebiasaan. Misalnya, kalau beribadah hari Minggu harus memakai pakaian putih-putih. Kalau melayani harus pakai jas. Sampai suatu kali saya bertamu di sebuah gereja. Ternyata kebiasaan di gereja itu semua pelayan-pelayan harus pakai jas. Waktu itu saya ditugaskan berkhotbah padahal saya tidak membawa jas. Maka gembala setempat meminjamkan jasnya kepada saya dan badan gembalanya tinggi besar sedangkan saya pendek. Saya sempat menolaknya tetapi tetap dipaksa karena kebiasaan pengkhotbah harus pakai jas. Selama berkhotbah saya tidak konsentrasi dan nyaris kehilangan urapan sebab saya takut bergerak dan kuatir jas saya yang kebesaran itu dilihat oleh jemaat. Jadi kebiasaan di gereja itu telah membuat saya tidak leluasa menyampaikan firman Tuhan.  

Yesus menyebut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sebagai orang munafik (ayat 6-7). Sebab mereka menerapkan kebiasaan-kebiasaan itu hanya supaya dipandang hebat, bagus, berohani, padahal hati mereka jauh dari Tuhan.

Misalnya : Markus 7:10-13. Kebiasaan orang Yahudi dan banyak orang Timur adalah anak-anak harus menghormati orangtua dan menolong orangtua yang sudah uzur. Hukum Taurat juga memerintahkan untuk menghormati ayah dan ibu dan tidak boleh mengutukinya. Tetapi orang Yahudi mempunyai kebiasaan bahwa yang terpenting adalah mereka membawa korban ke bait Allah. Bawa dulu persembahan ke bait Allah supaya kelihatan bahwa ia adalah orang yang berohani. Perkara membantu orangtua bisa menyusul bahkan bisa dimaklumi sekiranya kemudian tidak bisa menolong mereka. Yesus menegaskan bahwa perbuatan itu salah besar dan munafik.

Seringkali kita rajin melakukan kebiasaan-kebiasaan tetapi melalaikan firman Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa orang percaya tidak boleh membalas orang yang menyakiti kita. Tetapi karena kebiasaan manusia adalah saling membalas maka walaupun sudah orang Kristen tetap saja soal balas membalas dilakukan.

Inilah penyebab kenapa kehidupan rohani kita tidak berjalan dan berfungsi dengan baik, karena kita lebih memperhatikan soal-soal kebiasaan manusia yang lazim dan mengabaikan perintah Allah. Kita musti belajar melakukan semua firman Tuhan.

Roma 7:21-25. Sebenarnya di dalam batin kita, kita ingin melakukan firman Tuhan, suka berbuat baik. Tetapi tubuh karena masih daging lebih suka berbuat yang tidak baik. Kita semua masih hidup dalam daging dan daging gemar berbuat dosa. Dosa masih memerintah tubuh kita. Batin kita ingin melakukan firman Tuhan tetapi tubuh kita menghalanginya. Di sinilah pentingnya doa! Doa menyanggupkan tubuh kita berbuat sesuai dengan batin kita. Roma 6:12-13. Kita jangan dijajah oleh kehendak daging. Kita musti lawan Iblis yang memanfaatkan anggota tubuh untuk berbuat dosa.

Banyak orang menuruti keinginan daging karena mereka tidak sadar akan akibat dosa. Akibat dosa adalah maut. Roma 6:23. Upah setiap orang yang berbuat dosa adalah maut atau kematian, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Lalu siapa yang dapat melepaskan kita dari tubuh maut, dari manusia celaka ini? Tuhan Yesus Kristus! Roma 7:24-25.

Jadi kita boleh memelihara segala macam kebiasaan-kebiasaan, tetapi yang utama adalah perintah Tuhan. Perintah Tuhan tidak boleh diabaikan demi melakukan tradisi-tradisi. Sebagai pelayan Tuhan, saya selalu diingatkan untuk melakukan perintah Allah. Itu sebabnya walaupun kesehatan saya terganggu, saya tetap memuliakan Tuhan. Ingat, Tuhan Yesus membuat kita berhasil mengalahkan tubuh celaka ini sehingga kita dapat memuliakan Tuhan, mentaati dan melaksanakan perintah-Nya. Haleluyah!

Ringkasan Khotbah Pdt. M.D. Wakkary, Minggu, 31 Mei 2015 (Ibadah II)