log in

Khotbah (Artikel)

Senin, 06 Juli 2015 00:00

KETAATAN YANG BENAR

Written by  Pdt. FSH. Palit

Kejadian 6:22

“Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”

Nabi Nuh adalah hamba Tuhan yang diperintahkan oleh Tuhan untuk membangun sebuah bahtera yang sangat besar pada waktu itu. Tuhan menentukan jenis bahan dan ukuran-ukuran bahtera itu. Dan kalau kita baca secara keseluruhan kitab Kejadian pasal 6, maka kita temukan bahwa Nuh membangun bahtera tepat seperti yang diperintahkan Tuhan. Nuh tidak mengurangi atau menambah sedikit pun dari apa yang ditetapkan Tuhan tetapi melakukan sesuai dengan firman Tuhan. Inilah ketaatan yang benar.

Ketaatan yang benar menurut kitab Kejadian pasal 6 adalah ;

1) Ketaatan yang utuh (ayat 22)

– “Nuh melakukan  semuanya….”. Tidak ada bagian yang tertinggal dari apa yang seharusnya dilakukan Nuh. Nuh melakukan semuanya ; baik dalam hal bahan-bahan yang diperlukan maupun ukuran yang ditentukan oleh Tuhan semuanya dilakukannya. Nuh tidak melakukan sepotong-sepotong atau sebagian-sebagian saja melainkan melakukan semuanya. Dan Tuhan menilai bahwa apa yang diperbuat dan yang dilakukan Nuh adalah sempurna di hadapan Tuhan.

2) Ketaatan yang sesuai dengan firman Tuhan (ayat 22)

– “…tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.” Nuh melakukan semuanya tepat seperti yang diperintahkan Allah. Itu sebabnya ketaatan Nuh saya sebut ketaatan yang benar sebab ketaatan yang benar adalah ketaatan yang sesuai dengan firman Tuhan. Tidak ada firman Tuhan yang dikurangi atau ditambah atau dilanggar Nuh. Apa yang difirman Tuhan itulah kebenaran.

3) Ketaatan yang berdasarkan kasih karunia Allah (ayat 8).

– “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Kasih karunia Allah adalah landasan segala tindakan dan perbuatan yang dilakukan oleh Nuh. Artinya ketika Nuh menunjukkan ketaatan yang benar, itu berdasarkan kasih karunia Allah. Oleh karena itu Nuh sadar bahwa segala kemuliaan, hormat, pujian hanya bagi Tuhan. Nuh pasti tidak mengambil kemuliaan dari perbuatan ketaatannya. Tidak ada kebanggan diri, kesombongan, ataupun keangkuhan di dalam diri Nuh meskipun pembangunan bahtera dilakukan dan selesai dengan sempurna. Tidak ada kemuliaan untuk dirinya atas apa yang dikerjakannya. Kenapa? Sebab dia menyadari bahwa semuanya hanya karena kasih karunia Tuhan. Tanpa kasih karunia tidak mungkin dia bisa melakukan sesuatu di hadapan Tuhan.

Hanya oleh kasih karunia Allah kita dapat melakukan dan menikmati segala sesuatu yang indah dan besar dari Tuhan. Kalau kita menyadari bahwa segala kehidupan, segala yang ada, dan segala yang kita lakukan dalam hidup ini hanya karena kasih karunia Allah, maka kita tidak akan pernah meninggikan diri. Kita hanya mengangkat tangan dan berkata ;  Terpujilah Tuhan! Terimakasih Tuhan untuk anugerah-Mu!

Dalam 1 Korintus 3:10 rasul Paulus berkata bahwa ia adalah seorang ahli bangunan yang cakap. Tetapi rasul Paulus juga mengaku bahwa semuanya adalah karena kasih karunia Tuhan. Paulus tidak merasa bahwa semua yang dilakukan dalam Tuhan adalah karena kepintaran, kekuatan, dan kemampuannya, tetapi dia sadari bahwa itu adalah pemberian Tuhan. Orang yang menyadari bahwasanya segala yang dilakukan dan segala keberhasilan yang didapatkan adalah karena kasih karunia Allah akan selalu mengucapkan terimakasih dan memuji Tuhan.

4) Ketaatan yang didukung atau timbul dari persekutuan yang kuat dengan Tuhan (ayat 9).

– “….. Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Kata 'bergaul' menunjuk kepada hubungan, yaitu hubungan Nuh dengan Tuhan dari waktu ke waktu. Dalam hidupnya Nuh bergaul dengan Tuhan, bersama dengan Tuhan. Hubungan yang kuat ini menumbuhkan dan mendorong lahirnya sebuah ketaatan. Landasan atau fondasi ketaatan Nuh sangat kuat karena tumbuh dan lahir dari persekutuan yang intim dengan Tuhan. Nuh selalu bersama Tuhan, tidak ada waktu yang kosong tanpa Tuhan dalam dirinya. Menurut saya, Nuh adalah seorang yang begitu banyak berdoa, banyak meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, banyak memuji dan menyembah Tuhan. Nuh mempunyai waktu yang banyak untuk duduk dan berbicara di kaki Tuhan. Itulah pergaulan yang erat sekali dengan Tuhan.

Akibat dari ketaatan adalah ;  

1) Diselamatkan Tuhan. Kejadian 7:1.
Tuhan memberikan keselamatan kepada Nuh dan keluarganya sementara semua orang tenggelam dilanda air bah. Nuh dan keluarganya masuk dalam bahtera dan selamat.

2) Diingat Allah. Kejadian 8:1.
Allah tidak pernah melupakan Nuh tetapi selalu mengingat Nuh atas apa yang telah dilakukannya. Allah selalu mengingat Nuh, mengingat keluarganya, dan mengingat keadaannya. Apabila Tuhan mengingat berarti satu potensi yang luar biasa akan datangnya pemeliharaan dan pertolongan Tuhan. Walaupun ada saat-saat di mana Nuh menghadapi kesulitan, tetapi karena Allah mengingat Nuh maka Allah akan menolong dan tidak akan membiarkan Nuh berlama-lama dalam kesulitan itu.

3) Diberkati Tuhan. Kejadian 9:1.
Ketika Allah telah melenyapkan banyak orang melalui air bah, Allah membangun satu keturunan dan keluarga yang baru, dan itu dimulai dari Nuh. Allah memberkati Nuh dan keluarganya. Semua anak-anak Nuh diberkati Tuhan. Darisini kita ketahui bahwa setiap orang yang mentaati Tuhan dengan ketaatan yang benar maka Allah akan memberkati hidupnya, Allah akan memberkati anak-cucunya.

Jadi ketaatan yang benar adalah ketaan yang mempraktekkan firman Tuhan secara utuh dan benar dan yang berdasarkan kasih karunia Allah serta keaatan yang tumbuh dari persekutuan yang kuat dengan Tuhan. Kita harus memohon pertolongan Roh Kudus agar dalam kehidupan kita ketaatan demi ketaan selalu tumbuh. Apabila ketaatan ditambah dengan ketaatan berikutnya, dan ditambah lagi dengan ketaatan berikutnya, maka hasilnya adalah kesetiaan kepada Tuhan. Jika kita setia maka pada akhirnya Tuhan menyediakan dan mengaruniakan mahkota kehidupan kepada kita.

Biarlah Roh Kudus memberikan kemampuan kepada kita untuk bisa taat dengan ketaatan yang benar. Sehingga melalui ketaatan  itu Nama Tuhan dipermuliakan dan hidup serta keluarga kita menikmati segala kebajikan dan kebaikan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati!

Ringkasan Khotbah Pdt.FSH. Palit, Minggu, 28 Juni 2015 (Ibadah II)