log in

Khotbah (Artikel)

Minggu, 02 Oktober 2016 00:00

ALLAH YANG MEMULIHKAN

Written by  Pdt. Henry Lolaen
ALLAH YANG MEMULIHKAN Gembala Sidang GPdI Shekina, Ambon, Maluku

Yesaya 43:1-3

Nabi Yesaya melayani dan bernubuat sebelum pembuangan bangsa Israel. Dia juga banyak berbicara tentang pemulihan yang akan dilakukan Tuhan bagi bangsa pilihan ini. Dalam kondisi rohani yang labil dan tidak tetap, mereka mudah digoyahkan, tetapi Allah dengan kesetiaan-Nya tetap menanti dengan sabar supaya mereka sebagai umat Allah kembali ke jalan yang benar.
Yesaya disebut juga sebagai nabi “Injil” dalam Perjanjian Lama, karena banyak mengungkap nubuatan kedatangan Mesias, Yesus Tuhan, Juruselamat yang dijanjikan itu. Dia lahir, bekerja, melayani dan disalib, mati kemudian bangkit, dan akan datang kedua kali.
Konsep Allah tentang pemulihan hubungan akan terus berlangsung sepanjang masa, selama manusia masih ada. Allah merancang keselamatan untuk semua makhluk. Baik kepada malaikat yang ada di surga maupun manusia yang merupakan makhluk ciptaan paling mulia di antara semuanya, yang dirancang untuk kemuliaan-Nya akan diselamatkan.

Malaikat yang dihukum Allah adalah mereka yang jatuh dan dicampakkan untuk dibinasakan. Karena malaikat tidak dirancang untuk diselamatkan kembali. Itu adalah anugerah terbesar bagi kita dan bagi Israel. Melihat kehidupan rohani umat Tuhan yang sering berubah, tidak menyurutkan niat Allah untuk terus menanti pertobatan mereka sampai kembali ke jalan Tuhan.
Ayat-ayat ini dimulai dengan 2 kata yang menghubungkan 2 situasi, yaitu situasi sebelumnya dan saat ini. Dikatakan dalam ayat 1: “Tetapi sekarang...” Ada suatu keadaan yang terjadi pada umat Allah, dan tragisnya keadaan itu adalah kedurhakaan terhadap janji Tuhan. Mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, umat Allah yang spesial, tetapi mereka berubah setia. Walaupun demikian, Allah tetap menawarkan apa yang terbaik, yang akan Dia lakukan untuk bangsa ini.

Allah mau memulihkan janji-Nya kepada bangsa Israel. Allah menyebut mereka bangsa yang ditebus-Nya, umat-Nya, bahkan menjadi milik-Nya. Dia kemudian berjanji akan menyertai karena Dia mengasihi mereka. Di dalam dorongan derasnya sungai, Tuhan akan menyeberangkan mereka. Di tengah derasnya aliran-aliran air yang akan mencelakakan mereka, Tuhan mengatakan: Aku menyertai engkau. Bahkan melewati api sekalipun tidak akan membakar dan menghanguskan mereka (ayat 2).
Dalam ayat 3 Allah kemudian menunjukkan diri-Nya sebagai Allah Israel yang mempunyai kapasitas untuk mengangkat atau membuat bangsa yang telah jauh dari-Nya untuk kembali. Dia berkata: Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu. Dalam ayat-ayat sebelumnya kita melihat tentang kebanggaan, kehebatan, kejayaan dari bangsa-bangsa kafir ini, tetapi Tuhan menjadikan itu jaminan untuk membawa Israel kembali ke posisi semula, yaitu sebagai umat yang dikasihi-Nya.

Yesaya 42:14-16 mencatat tentang sikap Allah menghadapi kondisi rohani umat Tuhan yang labil, goyah, terpuruk sampai ke tingkat paling bawah. Allah memiliki otoritas dalam segala hal menurut kehendak-Nya karena Dia adalah pemilik dari alam semesta ini, termasuk manusia. Sikap ini didasari dengan kesetiaan-Nya untuk menanti perubahan dari umat-umat-Nya. Firman Tuhan berkata: “Aku mau berdiam diri, bahkan Aku mau menahan hati-Ku...” Hati Allah terluka karena yang dilakukan umat Allah sangat menyakitkan. Allah mau supaya semua manusia datang kepada Dia untuk diselamatkan.
Situasi umat Allah yang terus melakukan apa yang tidak berkenan di mata-Nya harus berakhir. Manusia harus memiliki respon yang benar terhadap kasih Allah. Allah kita Maha Kasih, Dia tidak bisa mengingkari diri-Nya. Karena sifat Ilahi itu maka Dia terus mengulurkan tangan dan melakukan apa saja untuk mendapatkan kita kembali. Kepada Israel hal itu dilakukan terus menerus tanpa henti karena kasih yang tak ternilai di hati Allah.
Kemudian dalam Yesaya 42:18-20 memperlihatkan keadaan umat Allah. Banyak hal yang sudah dilakukan Allah, banyak pertolongan, mujizat, keajaiban dan kuasa yang sudah diperlihatkan-Nya, sampai hal-hal yang mustahil menjadi tidak mustahil. Tetapi Israel melihat tapi tidak memperhatikan, memiliki telinga tetapi tidak mendengar. Sudah banyak hamba-hamba Tuhan dan nabi-nabi yang diutus untuk menyatakan kehendak Allah dan Firman-Nya, tetapi hal ini tidak dipandang baik oleh orang Israel.

Mereka adalah bangsa yang buta dan tuli secara rohani, dan hal ini sangat menyesakkan hati Tuhan. Kasih Allah disertai dengan keadilan Allah. Dia sudah menunggu dengan sabar, tetapi kondisi ini tidak berubah. Oleh karena itu Allah harus menyatakan murka-Nya, sehingga bangsa itu dalam keadaan dijarah dan dirampok. Tidak ada lagi yang menjadi kebanggaan, mereka menjadi miskin. Tidak hanya harta dan milik kepunyaan mereka yang dijarah dan dirampok, tetapi diri mereka juga menjadi barang jarahan.
Tidak ada lagi kuasa yang mampu membawa mereka pada keadaan yang baik. Padahal mereka adalah umat Allah dan bangsa yang khusus. Tidak ada lagi harapan bagi mereka, semuanya sirna. Dalam ayat 24: Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN? Tuhan mengadili dan menghakimi mereka. Karena di ujung pengadilan Allah ada maksud baik dan ini bukan perbuatan manusia.

Biarlah kita berada pada posisi yang benar di hadapan Allah. Kita seharusnya menampilkan Kekristenan yang mencerminkan gambar Allah, karena kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Kita harus menjadi pribadi yang berdampak positif bagi orang lain, menjadi saksi dan menyelamatkan orang lain. Amin

Ringkasan Khotbah Pdt. Henry Lolaen (Ambon, Maluku), Minggu, 26 September 2016 (Ibadah Raya ll)