log in

Khotbah (Artikel)

Minggu, 16 Oktober 2016 00:00

HIDUP KUDUS

Written by  Pdt. M. D. Wakkary

1 Tesalonika 4:7-12

Dalam pengalaman sebagai hamba Tuhan, saya melihat khotbah yang kurang disukai jemaat adalah khotbah tentang hidup kudus. Sebab sudah terbiasa pikiran manusia dikuasai oleh filsafat yang telah ada sejak dulu, yang berkata: manusia itu tidak suci, hanya Allah yang suci. Alkitab juga berkata bahwa semua manusia turunan Adam dan Hawa semuanya berdosa.
Hidup kudus bukanlah momok yang harus ditakuti, sebab banyak orang berpikir tidak bisa hidup kudus karena masih hidup di dunia. Banyak alasan yang manusia berikan, mungkin karena lingkungan kerja yang tidak mendukung, hidup di tengah masyarakat yang tidak baik.
Sebagai orang Kristen, kita harus berlandaskan hidup kudus. Allah memanggil kita dari hidup yang cemar dan berdosa, karena kita memang manusia berdosa. Untuk tujuan inilah Yesus turun ke dunia supaya orang berdosa bisa disucikan, diampuni dosanya, dan dia bisa belajar untuk hidup kudus. Hidup kudus itu artinya kita dijadikan kudus.

Roma 1:7 Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus. Orang-orang di Roma adalah kafir dan berdosa tetapi karena Yesus mereka dijadikan kudus. Kita sedang dalam proses dijadikan kudus. Rasul Paulus menjadi contoh hidup seorang manusia yang dijadikan kudus (Roma 1:1). Paulus dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Yesus menjadikan kita orang kudus. Memang tidak secara langsung seseorang itu menjadi kudus, kita yang masih hidup dalam daging sering kali gagal. Kalau kita di dalam Tuhan, harus berhenti menjadi cemar. Kalau ingin hidup kudus kita harus melatih diri menjauhi dan membenci percabulan, yaitu dari dosa seksual.

Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar melainkan apa yang kudus. Hidup kudus ini adalah kehendak Allah: Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu (ayat 8). Kita adalah gereja yang percaya Roh Kudus, bahkan kita mempunyai waktu spesial yaitu doa 10 hari pencurahan Roh Kudus. Allah memberikan keselamatan dan Roh Kudus kepada kita, meminta supaya orang percaya hidup kudus. Kalau kita mau ditolong dan disertai Roh Kudus maka kita harus hidup kudus.
Hidup kudus dalam surat 1 Tesalonika ini titik beratnya adalah percabulan. Kita memang hidup dalam darah dan daging sehingga kita berdosa tetapi kita harus belajar untuk hidup kudus.

Dalam 1 Korintus 6, hidup kudus juga artinya menjaga makan. Soal makanan selalu digandengkan dengan percabulan. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun (ayat 12). Dalam Kristen tidak ada yang haram, silahkan kita mau makan apa saja tetapi tidak semuanya berguna. Makanan kalau enak maka kita akan menjadi candu. Banyak orang menjadi hamba atau budak makanan. Dalam pelaksanaan retreat di Bali, kami yang hadir mendapatkan ceramah tentang kesehatan. Semua mulai takut karena selama ini makanan yang paling disukai ternyata tidak berguna.

Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Ibadah itu bukan hanya ketika kita memuji Tuhan, tetapi juga tubuh kita ini harus dipersembahkan kepada Tuhan. Dalam Kisah Para Rasul 15:28,29 berkata Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat." Jangan memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Oleh karena itu sebelum kita makan harus berdoa terlebih dahulu karena kita tidak tahu sumber makanan itu dari mana. Juga kita tidak boleh memakan darah, karena hidup kita cemar kalau memakan darah. Binatang yang mati dengan darah tertahan tidak boleh dimakan. Proses hidup kudus adalah kita belajar menahan diri dari kehendak-kehendak daging ini.

Dalam ayat 9 dan 10 Paulus menyinggung tentang kasih persaudaraan yang saling memberi. Hidup kudus adalah hidup yang suka memberi. Kasih itu harus memberi, gereja Tesalonika telah membantu pekerjaan Tuhan di seluruh wilayah Makedonia. Dalam menyambut natal ini, gereja kita juga memberikan makanan kepada jemaat yang hadir di ibadah natal 24 dan 25 malam. Kita memberikan bingkisan kepada orang miskin, hadiah kepada para hamba Tuhan, juga kepada anak-anak sekolah minggu. Orang yang berada di panitia natal harus mau memberi, apakah itu tenaga, doa atau uang. Kita selalu ingin berkat yang meningkat dalam segala hal, tetapi alkitab mengajar supaya pemberian kita juga meningkat. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Dalam bahasa Inggris ditulis: to do some more and more. Lakukan lebih lagi atau ditambah-tambahkan lagi.

Dalam ayat 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu. Sebagai orang Kristen yang hidup kudus, kita harus belajar untuk tidak banyak bicara, hidup tenang, tidak banyak gosip. Hidup tenang itu artinya kita tidak mencampuri urusan orang lain. Ayat 12 ini menjadi kuncinya: sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka. Kita dapat memenangkan jiwa-jiwa hanya dengan mereka melihat hidup kita.

Jadi tidak sulit untuk hidup kudus, apalagi dengan Roh Kudus yang ada dalam hidup kita. Dialah yang menolong kita mematikan keinginan-keinginan daging. Saya yakin jemaat GPdI Maranatha dapat bertumbuh dalam hidup yang kudus. Haleluyah

Ringkasan Khotbah Pdt. M. D Wakkary, Minggu, 9 Oktober 2016 (Ibadah Raya ll)