log in

Khotbah (Artikel)

Minggu, 20 November 2016 00:00

KEBAIKAN TUHAN

Written by  Pdt. M. D. Wakkary

Mazmur 23:1-6

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Sebagai jemaat yang sudah datang dalam ibadah, saya yakin kita adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus dan kita mengerti bahwa hidup ini telah diselamatkan. Keselamatan itu gratis karena sudah dibayar sendiri oleh Yesus. Allah yang sudah menjadi manusia, mati dan berkorban sebagai manusia, darahnya menyelamatkan umat manusia. Dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, seringkali ada perasaan bahwa kita otomatis masuk ke dalam surga. Memang bagi kita yang percaya Yesus sudah disediakan tempat di surga, tetapi di dunia banyak yang tidak bisa mempertahankan kepercayaannya. Padahal perjanjian dan jaminan Tuhan kepada orang yang tetap percaya kepada-Nya sangat luar biasa.
Dalam Mazmur 23:1, Tuhan menjadi gembala dan kita adalah domba-domba-Nya. Tetapi sudah berapa persenkah kita menjadi dombanya Tuhan? “...takkan kekurangan aku.” Salah satu masalah terbesar di dunia ini adalah masalah ekonomi. Masalah ekonomi mendominasi dunia, negara, bangsa, keluarga, pribadi. Orang yang percaya kepada Yesus mempunyai jaminan walaupun menghadapi berbagai masalah yang menghadang.
Ayat 6 berkata: Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. Anak-anak Tuhan yang taat tidak akan kekurangan. Tuhan memberikan jaminan bahwa kebajikan yaitu kebaikan-kebaikan Tuhan, mengikuti domba-domba seumur hidupnya. Dalam praktek hidup kita, pengalaman hidup yang kita hadapi sungguh berat, tetapi kebaikan Tuhan sungguh luar biasa, kemurahan-kemurahan Tuhan begitu banyak dan selalu mengikuti serta menolong kita.
Apakah kebajikan dan kemurahan Tuhan itu benar mengikuti kita? Ya, benar. Keselamatan yang kita terima gratis, dan kita juga masih menerima kebajikan dan kemurahan Tuhan. Apabila kita mendapatkan hadiah natal dari seseorang, pasti kita akan berpikir untuk membalasnya pada kesempatan yang lain. Itulah kita sebagai manusia yang normal, yang tidak lupa kebajikan seseorang.
Saya juga banyak menerima kebajikan Tuhan. Dia banyak menolong saya walaupun harus mengadapi kesusahan yang begitu berat.
Kita sebagai anak Tuhan seringkali lupa bahwa begitu banyaknya kebaikan Tuhan yang telah dialami. Baik kepada anak-anak dalam study mereka, pekerjaan istri, pekerjaan suami dan rumah tangga keluarga kita. Kita mungkin memang bersyukur, tetapi sebagai manusia apakah kita tidak memiliki keinginan untuk membalas kebaikan Tuhan itu? Kita pasti senang kebajikan dan kemurahan Tuhan mengikuti kita, sehingga kita tidak usah khawatir terhadap masa depan anak-anak atau cucu kita.
Mazmur 116:12 Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Di sini kita melihat suatu rahasia, ternyata Tuhan ingin melihat apakah kita akan membalas kebajikan yang diberikan-Nya kepada kita. Tidak diketahui siapa penulis mazmur dalam pasal ini, tetapi dia memiliki keinginan untuk membalas kebajikan Tuhan.
Kita semua ingin mengalami apa yang tertulis dalam Mazmur 23:6, tetapi yang ada seakan-akan kita lupa kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Untuk dapat mengalami berkat-berkat Tuhan secara berkesinambungan, kita harus menghormati, menghargai dan bersyukur serta membalas kebaikan Tuhan.
Pemazmur memberikan caranya kita membalas kebajikan Tuhan. Ayat 13,14 Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Membayar nazar yang adalah janji kita kepada Tuhan.
Ada salah satu sosok yang membalas kebaikan Tuhan dengan cara yang luar biasa. Dalam Lukas 7:36-50, ada seorang Farisi yang mengundang Yesus makan. Biasanya orang Farisi memiliki sikap menolak Yesus karena mereka menganggap tidak memerlukan Yesus. Tetapi orang Farisi ini berbeda, dia mau menerima Yesus di dalam rumahnya. Berarti dia percaya kepada Yesus.
Di saat bersamaan juga ada seorang wanita yang disebut dalam ayat 37 sebagai seorang berdosa, yaitu seorang wanita tuna susila. Dia datang kepada Yesus dan memberikan satu botol minyak wangi dengan cara meminyaki kaki Yesus. Biasanya orang yang punya parfum memakainya sedikit demi sedikit, tetapi wanita ini mencurahkan semuanya di kaki Yesus.
Orang mungkin bisa memberikan makanan dan minuman kepada Yesus, dan dengan fasilitas yang dimilikinya menjamu Yesus dengan luar biasa. Terapi wanita ini membuat Yesus takjub dengan persembahan yang dia berikan walaupun memang benar dia seorang perempuan yang berdosa. Yesus memuji wanita ini karena dia membalas kebaikan Tuhan dengan cara yang luar biasa.
Apakah hasil yang didapatkan oleh perempuan ini? Ayat 48-50 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat! Dosanya diampuni.
Kebaikan Tuhan tidak hanya dibayar sekedar dengan hal materi, sekedar dengan uang, sekedar dengan tenaga kita, tetapi dengan mengucapkan syukur untuk apa yang Tuhan telah berikan kepada kita. Wanita ini mempersembahkan semua yang dia rasakan terbaik: membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyeka dengan rembutnya dan meminyaki dengan minyak wangi.
Kita bisa mengalami kebajikan Tuhan seumur hidup kita. Perempuan ini tersisih dari masyarakat karena dia berdosa, tetapi Yesus menerimanya sebab dia sudah mengakui dosanya dengan cara yang luar biasa.
Kalau kita menerima kebajikan Tuhan, kita juga harus tahu bagaimana cara membalasnya. Apakah yang sudah kita berikan kepada Tuhan sepadan dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita? Sehebat-hebatnya kita bisa berkorban, tidak dapat membalas kebaikan Tuhan. semakin kita membalas, semakin kita merasa kurang. Tetapi justru waktu kita berusaha membalas kebaikan Tuhan dengan cara-cara yang luar biasa dan tidak bisa dilakukan oleh orang lain, itu menyenangkan hati Tuhan. dan kalau hati Tuhan disenangkan, kebajikan dan kemurahan akan mengikuti kita kemanapun kita pergi. Haleluyah!