log in

Khotbah (Artikel)

Minggu, 16 April 2017 00:00

MUJIZAT, TEROBOSAN DI TENGAH KRISIS

Written by  Pdp Klaudia Rumemper-Wakkary

Dalam minggu ini kita merayakan Paskah yang memiliki makna Tuhan memberi kita kemenangan. Kemenangan yang dari Tuhan karena Dia bukan hanya mati tetapi juga bangkit. Seringkali kemenangan yang Tuhan sudah kerjakan di salib tidak kita rasakan atau alami dalam hidup ini. Kita sudah datang beribadah kepada Tuhan, tetapi saat mengalami persoalan kita tidak tahu bagaimana caranya untuk menang, sehingga kita putus asa, tawar hati atau lemah dahulu sebelum kemenangan itu diraih.
Dalam 2 Raja-raja 4:1-7 kita membaca tentang seorang janda yang sedang berada dalam keadaan krisis. Di ayat 1 berkata: Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." Kedua orang anaknya akan diambil dan dijadikan budak oleh si penagih hutang. Kedua anaknya ini adalah laki-laki. Di saat itu bangsa Israel mempunyai hukum yaitu semua rakyat harus membayar upeti atau pajak kepada raja. Pada waktu itu yang menjadi raja adalah Yoram anak raja Ahab. Dan janda ini tidak sanggup memenuhi kewajibannya sehingga anak-anaknya harus diambil sebagai pengganti pajak itu.
Jadi persoalan yang dialami janda ini sangat berat karena suaminya baru meninggal, dia tidak melunasi pembayaran pajak dan sekarang kedua anaknya akan diambil oleh para penagih itu. Krisis yang dialaminya bukan hanya krisis keuangan tetapi juga akan terjadi perpisahan dengan anaknya.
Kita juga mungkin sering menghadapi keadaan seperti ini, adanya krisis dalam keluarga, pekerjaan atau secara pribadi dalam tekanan berat yang membuat kita tidak bisa melihat adanya jalan keluar, kemenangan atau jawaban dari Tuhan.
Kehidupan janda ini tidak sampai jatuh dan hancur karena krisis tetapi Tuhan sedang mengerjakan sesuatu bagi dia. Dalam ayat 7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” Dia mengalami akhir yang bahagia karena Tuhan menolong.
Kita akan melihat apa saja yang dilakukan janda ini sehingga mengalami terobosan dan mujizat, karena mujizat itu tidak bisa direka atau dirancang oleh manusia, mujizat itu hanya bisa datang oleh karena pekerjaan Roh Tuhan dan urapan Tuhan. Janda ini tidak hanya mengalami mujizat tetapi juga terobosan ke level selanjutnya.
Ada 3 hal yang bisa pelajari sebagai orang Kristen dalam menghadapi masa-masa krisis. 1. Berseru atau mengadu kepada Tuhan. Dalam terjemahan bahasa Inggris ayat
1 ini berbunyi: a certain woman of the wives of the sons of the prophets cried out to Elisha... Cried out artinya menangis dengan nyaring dan berseru. Dia datang kepada Elisa sebagai nabi Allah yang menjadi wakilnya Tuhan bagi orang Israel pada waktu itu. Jadi mereka akan selalu datang kepada hamba Tuhan sebagai wakil Allah yang akan memberi petunjuk dan menyampaikan apa yang menjadi suara Tuhan atau perintah Tuhan yang harus mereka dengarkan dan lakukan. Sebelumnya ada nabi Elia yang digantikan oleh Elisa.
Janda ini tidak datang mengadu kepada manusia, apakah itu tetangganya, sahabatnya atau saudara-saudaranya tetapi dia berseru mencari Tuhan. Dia memprioritaskan untuk mencari Tuhan karena pertolongan itu hanya datang dari Tuhan. Biasanya manusia ketika menemukan ada masalah langsung komplain bukannya berseru kepada Tuhan. Tetapi kalau kita ingin melakukan kehendak Tuhan maka jauhkanlah diri kita dari komplain, berserulah dan berdoa mencari Tuhan.
Wanita ini baru saja kehilangan suaminya dan biasanya orang yang sedang mengalami dukacita tidak bergairah untuk melakukan apapun, tetapi dia datang kepada nabi Elisa.
2. Ayat 3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" 5 Pergilah perempuan itu dari padanya;
Yang kedua janda ini memiliki ketaatan. Ketika kita menghadapi kususahan dan pergumulan apakah kita masih bisa taat kepada Tuhan? Memiliki ketaatan dalam hidup kekristenan itu sangat penting karena kita memiliki teladan untuk ketaatan yaitu Tuhan Yesus yang taat sampai mati.
Ketika Elisa memberikan perintah kepada janda ini, dia tidak komplain atau marah tetapi taat. Dan yang disuruh Elisa bukan hal yang gampang karena dia harus pergi keluar dari rumah. Secara manusia dia mungkin malu karena menjadi janda yang memiliki hutang dan tidak mampu untuk membayar. Tetapi dia pergi kepada tetangga-tetangganya, memperlihatkan diri dan tidak malu karena mau taat kepada perintah Tuhan. Janda ini tidak menunda-nunda waktu atau menuruti perasaan dalam menerima perintah.
Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masa krisis? Taat kepada Firman Tuhan. Bertindaklah dan miliki ketaatan saat Tuhan berbicara kepada kita.
3. Bertindak/berusaha dengan iman dan percaya. Ayat 5 dan 6: 5...ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir.
Dia langsung berusaha dan bertindak dengan iman, sedang ia terus menuang. Kata terus artinya tidak berhenti. Dia tidak lemah atau tawar hati. Begitu banyak bejana yang harus dituangi minyak, karena Elisa katakan bejananya tidak boleh sedikit. Walaupun tangannya sudah capek tetapi dia terus menuang, karena dia beriman saat buli-buli itu terus dituang akan tetap ada bejana yang diisi.
Kita jangan lemah dan putus asa tawar hati tetapi tetaplah bertindak dengan iman. Ibrani 12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Haleluyah!

Ringkasan Khotbah Pdp. Klaudia Wakkary, Minggu, 9 April 2017, Ibadah Raya IV