log in

Berita / News

Yosafat R. Lahindah

Yosafat R. Lahindah

KETIKA BADAI BERGELORA

Kisah Para Rasul 27:27a. Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Ini adalah kisah pelayanan rasul Paulus, seorang yang radikal hasil pelayanan Roh Kudus. Dia dipakai Tuhan dengan luar biasa. Dalam perjalanan ini, Paulus akan dibawa ke Roma dengan suatu kapal yang berisi 276 orang. Kapal mereka diterpa badai dan malam yang ke 14 mereka masih terombang ambing. Apa yang akan kita lakukan apabila berada dalam keadaan seperti ini?
Saya pernah pulang pelayanan dari Lampung naik kapal di penyeberangan Bakauheni menuju Merak. Waktu tempuh biasanya adalah 2,5 jam, tetapi pada saat itu saya rasakan sudah 6 jam kami berada di laut. Kemudian ada berita bahwa kapal itu mesinnya rusak dan mati sehingga kami terbawa arus. Semua sudah gelisah, termasuk saya juga mulai tidak tenang. Itu baru 6 jam, Paulus mengalaminya 14 hari 14 malam. Dan selama itu, mereka tidak pernah melihat matahari, tidak pernah melihat bintang, tidak melihat terang, yang ada hanya awan gelap dan hujan lebat, serta angin kencang. Semua sudah ketakutan, tetapi dalam situasi ketakutan itu Paulus berdiri dan mengatakan: jangan takut, tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya. Seharusnya dalam situasi seperti ini, gereja mampu berdiri tegak dan mengatakan kepada dunia Yesus adalah jawabannya.
Ada sekelompok orang turun dari kapal itu memakai sekoci dan ingin lari, tetapi Paulus berkata: jika kamu meninggalkan kapal ini maka tidak akan selamat. Hanya orang-orang yang tinggal di dalam kapal yang akan selamat. Ini adalah peringatan bagi kita, jika ada orang yang suka meninggalkan persoalan tidak akan keluar dari persoalan. Jangan pernah pindah gereja kalau karena ada goncangan, jangan pernah pindah pekerjaan kalau karena persoalan.
Ketika badai bergelora terjadi dalam hidup kita, lakukan 3 hal ini seperti yang dilakukan oleh Paulus dan mereka yang ada di kapal itu.
1. Ayat 17. Dan setelah sekoci itu dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti kapal itu dengan tali. Dan karena takut terdampar di beting Sirtis, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan layar. Apa itu layar? Zaman itu belum ada mesin dan layar satu-satunya sarana kalau dikibarkan, ditiup angin maka kapal bisa jalan. Tapi justru pada saat itu Tuhan menyuruh Paulus supaya layar diturunkan. Dan percayalah, tanpa layar kapal kita akan terus dipimpin oleh Tuhan. Layar itu berbicara tentang buatan manusia, tetapi angin yang mendorongnya bicara tentang Roh Kudus.
Orang yang sudah dipenuhi dengan Roh seharusnya tidak hanya berbahasa Roh tetapi juga berdiri kuat dalam segala hal. Layar itu bicara tentang strategi atau cara-cara manusia, dan bicara tentang kekuatan manusia. Jadi, supaya hidup kita tenang di saat terjadi gelora yang besar maka turunkan dan tanggalkan cara-cara manusia kemudian berserah total, terapung-apung tanpa layar dipimpin oleh Tuhan. Percayalah! Ketika kita berserah maka Tuhan sanggup memimpin penyerahan kita kepada suatu tujuan yang lebih baik. Ada waktu di mana kita betul-betul pasrah total kepada Tuhan, turunkan semua kemampuan kita.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita semua dalam pengawasan dan kontrol Tuhan, satu hal yang pasti ujungnya menuju kepada kebaikan. Kalau kita mengerti prinsip ini, maka kita tidak akan mudah kecewa.
2. Ayat 29 Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. Mereka membuang 4 sauh supaya kapal itu tetap berada di tempat yang dalam. Apa itu sauh? Ibrani 6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Sauh itu adalah pengharapan yang dilemparkan sampai ke belakang tabir. Tabir adalah pemisah antara ruang kudus dengan ruang maha kudus. Ruang maha kudus inilah yang terletak di belakang tabir, hadirat Tuhan ada di situ.
Fokus kita jangan tabir atau penyekat itu tetapi kita fokus kepada yang ada di belakang tabir, yaitu Yesus yang siap menolong kita semua. Ketika kapal kita goncang, ada angin kencang, jangan kita fokus lagi kepada hal lain tetapi kepada Yesus.
3. Ayat 38 Setelah makan kenyang, mereka membuang muatan gandum ke laut untuk meringankan kapal itu.
Supaya kapalnya tidak tenggelam, ada yang harus dibuang. Kita harus berani mengambil keputusan membuang yang tidak terlalu penting. Sering kali, kita sudah ada dalam goncangan dan masalah tetapi kita tidak tahu mana yang penting dan mana yang tidak. Mari kita menjadi orang Kristen, anak Tuhan yang senang kepada hal-hal penting.
Kalau badai bergelora, mari lakukan 3 hal ini: serahkan kepada Tuhan, lihat kepada Tuhan dan buang yang tidak penting, maka kapal hidup kita pasti aman. Haleluyah !

  • Published in Khotbah

PASKAH SEKOLAH MINGGU MARANATHA, SUKSES

Hari Minggu, 23 April 2017 Ibadah Paskah Sekolah Minggu GPdI Maranatha dengan tema "GRACEFUL" dapat berlangsung sukses, Puji Tuhan.
Sukacita, kegembiraan akan kebangkitan Yesus Sang Juruselamat tergambar dari wajah dan hati anak-anak sekolah minggu melalui setiap pujian-penyembahan yang dipimpin oleh kak Itche dan kawan-kawan.
Kemudian persembahan pujian dari cabang-cabang sekolah minggu yang dibagi dalam 3 kelompok dan penampilan drama singkat dari kelas madya (besar).
Pesan Firman yang disampaikan kak Olive Siahaan melalui aksi panggung boneka, bahwa anak-anak sekolah minggu harus saling mengasihi, mengampuni, rajin berdoa dan baca alkitab. Setelah itu kakak-kakak dari MARS menampilkan drama musik berjudul "ALIVE".
Ibadah usia pkl. 16.00 wib dengan doa penutup oleh kak Klaudia Wakkary, anak-anak turun ke lantai satu menerima snack yang telah disiapkan oleh guru-guru sekolah minggu.
Terima kasih kepada seluruh orang tua murid sekolah minggu, jemaat, dan guru-guru sekolah minggu yang telah berkorban uang/materi, doa, waktu, jerih payahmu tidak akan sia-sia.
Tuhan Yesus memberkati pelayanan Sekolah Minggu GPdI dengan limpahNya

Subscribe to this RSS feed